jumpalitan dalam angka
papi saya yang bermata sipit itu bisa tibatiba memaksa melotot (meski tak pernah berhasil) kalau saya atau adik saya bilang "tidak tahu" ketika ditanya, dalam soal apapun juga. buat papi, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan. padahal pernah saya coba bilang kalau dalam agama kita aja pap ada ta'a budi dan ta'a kuli, ah pasti saya salah tulisnya, yang artinya ada yang bisa dijelaskan dengan akal dan ada yang tidak. tapi toh, buat papi hal itu tak berlaku, buat dia semua ada jawabannya.
ketika bergabung dengan kbr68h, saya bertemu dengan alif imam, senior, atasan saya yang modalnya sok tahu, lebih banyak sih dia tahu, terutama dalam hal sepakbola. satu kali dia maksa ikutan siaran olahraga dan dalam satu sesi dia menyebutkan "siapa GUARD untuk tim kesebelasan anu..." yang dia maksud adalah pemain belakang, defender. saya selalu mengagumi orang ini karena selalu punya jawaban untuk semua pertanyaan.. mirip papi saya.
saya sendiri, lebih banyak menghindari pertanyaan yang saya tak yakin tahu jawabannya. termasuk untuk urusan keuangan. nilai ekonomi saya waktu sekolah dulu memang delapan, tapi matematika saya cuma enam, malah kelas satu sma sempat merah hehehe. seingat saya baru sekali dapat ponten sepuluh ketika kelas dua sma untuk ulangan. sempat saya tempel di tembok tempat tidur, pamer ke papi kalau saya sudah pandai berhitung.
karena lemah soal angka juga saya pilih ilmu sosial, kekuatan saya di mulut, saya pintar ngemeng, kata semua orang, nita itu diamnya cuma pas tidur... eh tunggu dulu kata mami dalam tidur pun saya suka mengigau. saya selalu menghindari angka, meski nilai geografi untuk menghitung jarak bintang ke bumi, saya tetap jagoan :-).
ketika masuk dunia kerja, adik saya memilih bekerja di bagian keuangan, saya jadi jurnalis. semua isu, boleh lah dikuasai, saya sempat hafal semua pemain bola, transfer pemain, peringkat klasemen dan sebagainya, tapi jangan suruh saya ke departemen keuangan atau di BEJ. meski saya akhirnya sempat kebagian kesana juga, perut mulas, keringat panas dingin, karena saya tahu betapa desimal itu sangat berarti di bagian keuangan.
ketika dipercaya mengelola green radio, saya selalu berlindung dibelakang pak pamungkas, bos saya untuk urusan menghitung angka. jangan saya disuruh ngitung berapa harga permenit air time kita, berapa pajak yang harus dibayar, bagaimana mengurus MO dengan klien dan sebagainya. saya akan menjerit ketakutan. suruh saya mengurus ratusan orang untuk kegiatan off air, saya pasti bisa.
setelah pak pamungkas tak ada, saya dipaksa mencintai angka. pelan-pelan saya belajar berhitung lagi, berapa keuntungan kami dari sebuah kerjasama, apa itu pajak ppn dan pph, bagaimana bernegosiasi soal angka dengan klien. hey bagaimana meredam kesal dengan senyum saat bernegosiasi.
hasilnya, di otak saya cuma uang sekarang. bagaimana mencapai kekayaan yang cukup untuk memakmurkan sekeliling saya. hasil belajar dari sebuah novel tentang perempuan dan uang, saya tak takut lagi untuk bilang, iya saya perempuan materialistis karena hidup saat ini dihitung dengan uang.
kalau saya tak kenal papi, alif dan pak pamungkas juga mas tosca yang memaksa saya untuk belajar dan keluar dari ketakutan akan angka dan ketidaktahuan, saya masih jadi orang yang selalu berlindung dibelakang orang lain. saya masih jadi orang yang cuma berpikir ala kuda, hanya pada satu yang diyakininya bisa, tanpa melihat pada ceruk lain dalam hidup.
makasih banyak yaaaaa.....
membacamu lagi
lebih tepat sebenarnya melihatmu lagi. lewat jendela facebook, lewat jendela google menemukan dirimu yang hilang dari sisi selama tahunan kini. semuanya sudah berubah, hanya aku yang tidak. mirip lagu keane, everybody changing, but i am not.
its good to see you again, even not for the real one. to see you who changed a lot lately. melihatmu menikmati hidup, cukup menyenangkan buatku. sekalipun iya, aku cemburu pada dia yang ada disisimu, entahlah apa dia untukmu. teman, selebihnya teman atau bukan, terserah. dia yang berbagi tawa, berbagi minum, berbagi cerita bahkan mungkin berbagi bau.
hey really, its okay with me. go on with our own life. as you deserve everything in life. just like me. aku punya pekerjaan yang menantang, yang mengajariku cara berkomunikasi dengan orang, memendam benci dengan senyuman, memendam marah dengan tawa. aku punya keluarga yang selalu bersamaku dalam suka dan duka. aku bersama kawan yang selalu ada dalam situasi apapun.
your hair has changed, your body is more fit and you just more manly now. i hardly recognized you now but your very special nose has made everything clear... its you! tapi semuanya sudah berubah, hatimu apalagi. tak ada kesempatan sedikitpun kamu bukakan jalan untukku mendekatimu.
mungkin nanti, mungkin juga tidak. damn im still looking for you in every hearts i entered, every face i see and every dream i planed to see. jangan tanya kapan cinta ini akan usai, mungkin nanti mungkin juga tidak. simpan saja, sampai tuhan bosan menamparku dengan rasa sakit.
hidup tak kemana-mana
hidup saya mestinya bisa berubah sejak setahun lalu, ketika satu persatu kesempatan itu datang. semuanya tertunda hanya karena satu hal.... saya pengecut. ketakutan akan hidup membuat saya tak bergerak kemanapun,statis, menunggu nasib, mengeluhkan hal yang sama sepanjang hidup.
ketika tawaran menikah datang, saya sambut gegap gempita. horeee, kesempatan mengubah hidup datang lagi. saya bersiap, lagi-lagi dengan ketakutan konyol itu, ragu meninggalkan rumah, meninggalkan kerjaan, rekanan dan hidup nyaman hmm not really... teman saya bilang, MENIKAH nit, karena kalau ga, lagi-lagi lo hanya akan mengeluhkan hal sama... betapa hidup tak lagi berkembang. saya mati... sebelum benarbenar tertanam dibawah tanah.
konyolnya, saya bikin sejuta ulah, alasan hingga akhirnya kesempatan itu hilang lagi. kami bubar, saya tak jadi menikah dan menjalani hidup seperti biasanya.
saya tak lebih dari seorang pengecut. saya pengecut yang tak berani mewujudkan mimpi dan harapan bahkan untuk melangkah. saya bahkan bilang, "i didnt make a future", what a stupid word i have just said. pemimpi itu akan mengubah masa depannya sendiri, tapi saya tidak. saya cuma pengecut dan pecundang yang membiarkan hidup berjalan diatur waktu dan nasib.
usai sudah
sakit? sedikit,
sedih? sedikit,
nangis? sedikit,
kecewa? sedikit,
saya cuma punya sedikit untuk semua rasa. sebentar menangis, sebentar tertawa tapi juga lega.. entah lah mungkin saya sudah gila karena tak lagi percaya cinta.
gampang sekali semuanya berlalu, bahkan saya belum merasa memulai. saya baru saja akan memulai hidup tanpa bayang masa lalu. baru saja memulai membuka hati, baru saja melangkah... ah sudah usai ternyata
sakit? sedikit,
kecewa? sedikit,
sakit dan kecewa karena saya harus menyudahi sesuatu yang baru saja saya mulai. mimpi bersama. tak pernah terbayang sebelumnya saya menyiapkan semua, kebaya, cincin, sepatu, lingerie, lokasi bahkan saksi dan penghulu, mc pun sudah diancer, daftar undangan sudah dibuat. .... dan gagal.
lega? sedikit,
pada akhirnya saya cuma bisa pasrah. sebesar apapun usaha kami memulai, tuhan selalu punya ide sendiri. DIA selalu ingin campuri kerjaan manusia. mungkin karena dia tahu apa yang terbaik untuk saya. versinya Tuhan loh, bukan saya. ketika pasrah, lega itu ada.... sakarepmu gusti allah.... terserah ANDA saja, Tuhan...
tangis? sedikit,
sudah habis seminggu lalu. sudahlah terbayang jika semua memang harus usai. airmata bahkan tak lagi ngucur seperti air terjun. sudah habis....
kalau nanti rindu itu muncul... biar saja saya titip pada tuhan kami yang berbeda... tolong sampaikan pesan saya pada nya... cinta ini tak akan berubah.
cinta sejati dan bukan
"i love you more than you love me" katanya suatu hari
bagaimana menimbang cinta, siapa yang lebih besar dari yang lain?
"lo belum pernah merasakan cinta sebenarnya sih nit, yang bikin lo berkorban banyak?" kata teman saya satu kali.
sungguh saya ga ngerti bagaimana menimbang cinta dan harus sebesar apa pengorbanan yang dikeluarkan untuk mempertahankan cinta itu. atau sesungguhnya saya tidak kenal apa itu cinta?
empat tahun kurang dikit waktu yang saya habiskan untuk memelihara cinta pada ram. tak berpaling pada yang lain, tak memberikan kesempatan orang lain merasuki hidup ini. semua hanya ram. berusaha menjaga kontak meski dia tetap menolak. mengejar mimpi untuk sekolah ke belanda, sekali hampir berhasil. sampai akhirnya ram bersama yang lain.
"lah ga ada perjuangan yang lo lakukan selain menunggu dia di jakarta," begitu kata kawan yang lain.
lalu saya harus berbuat apa? apa yang saya lakukan selama empat tahun lebih dikit ternyata tak cukup besar untuk membuat ram balik pada saya.
sekarang ketika dia mengajak saya meninggalkan keluarga, agama, dan kehidupan demi masa depan yang baru dengannya, saya kembali menolak. dia bilang saya tidak mencintainya sebesar cinta dia padanya. pertanyaannya kemudian saya balik dong, apakah dia bersedia meninggalkan keluarga, agamanya dan kehidupan dia untuk bersama saya di sini, di jakarta dengan segala baik dan buruknya. dia pun terdiam...
masih dia bilang cintanya pada saya lebih besar daripada cinta saya padanya?
kata teman, kalau saya sedang jatuh cinta bagai kerbau dicocok hidungnya, everything is about him. tapi ternyata saya berada diantara logika dan rasa. saya pernah buta pada cinta, sakit menahun karenanya. pun saya cinta pada ram yang pada realitanya tak mungkin kembali. saya memang pecinta, tapi bukan pengorban, saya bukan martir untuk cinta.
keluarga, ibu dan Zi adalah segalanya dalam hidup saya kini dan nanti. saya tak akan bisa bahagia tanpa melihat mereka bahagia. kalau akhirnya saya tidak bisa membedakan cinta sejati atau bukan, ya itulah. atau memang saya belum temukan seseorang yang bisa menjadikan saya martir untuk cinta? bahkan mengkhianati tuhan sekalipun.
cinta tanpa rupa
sebuah teguran khas di kolom YM... "hi, asl". gue sambut dengan makian, "hey if you looking for a girl to have sex tonite, then you got a wrong person." ternyata makian gue itu dianggap sebagai "tantangan" olehnya. dia pun tertawa dan bilang bahwa gue lucu.
tak ada yang lucu sebenarnya dari ucapan gue waktu itu. serius banget bahkan. karena seperti biasanya gue merasa "harus" meladeni pembicaraan orang-orang ym yang kesepian seperti gue, dan akhirnya mereka akan mengajak gue bicara seputar selangkangan. saat dia menyapa, gue sudah tahap muak. tapi itu tidak menghentikannya.
"nita i really like you a lot." pesan itu yang disampaikan dia lewat email beserta sebuah foto.... anjrit guanteng, sexy, anjrit.... lalu gue balas dengan ucapan, "semoga foto ini bukan boongan yaaaa."
dia tertawa, tertawan pesona muka asia gue yang disebutnya really beautiful. oh ya dong hehehe... kisah kami berlanjut hingga kini. tanpa rupa, hanya kata. tanpa suara hanya percaya.
buat orang lain cinta kami semu, cuma di dunia maya. tapi ada rindu tanpa kehadiran dia, atau tangis saat pertengkaran, itu adalah rasa yang nyata. tak ada yang bisa dijelaskan dari cinta kami yang tanpa rupa, tapi nyata. saat masalah datang, gue stres berat, dua malam beruntun muntah karena sedih, panik dan patah hati. itu nyata.
cinta tanpa rupa, hanya kata dan itu nyata. gue cuma bisa bilang, ada sayang, ada cinta yang tertinggal untuknya. entah kapan akan berwujud, entahlah. kami pernah berharap, lalu kecewa dan kini berusaha membangun harapan lain yang baru. jika cinta tanpa rupa bisa kuat melewati rintang, kami pun berhak bahagia dalam nyata, bersama.
begini akhirnya
cinta saja tak cukup buat kita bersatu,
ada masalah sama kerja, agama sampai ibu,
jangan suruh aku memilih antara kamu atau ibu,
karena kalian bukan pilihan, kalian satu untuk hidupku.
tapi kau paksanya juga aku memilih,
sakit akhirnya kan
ibu adalah segalanya untukku, dan kau tahu itu
ibu adalah agama
ibu adalah tuhan untukku.
aku sakit, kamu juga
cinta saja tak cukup buat kita bahagia
aku benci tuhan yang membuat kita berbeda tapi memaksa kita menyembah sama
tapi aku teramat cinta ibuku melebihi pencipta
bahkan dia tak akan sebanding dengan cinta kita.